Pakuwon cari dana Rp 1 triliun. Bunga obligasi dolar diharapkan jadi 10%
Bisnis Indonesia, Jakarta, 19 Januari 2012. PT Pakuwon Jati Tbk, pengembang properti milik pengusaha Alex Tedja, mencari dana senilai Rp1 triliun untuk membiayai kembali utang perseroan.
Direktur Keuangan Pakuwon Jati, Minarto Basuki mengatakan utang yang akan dilunasi perseroan refinandng terdiri dari utang obligasi dengan denominasi dolar dan beberapa pinjaman dari pihak perbankan.
"Saat ini kami masih belum menentukan utang mana saja yang akan dilunasi. Hal itu tergantung dari dana yang kami dapatkan yakni maksimal Rp l triliun. Kalau full artinya kami bisa melunasi obligasi dan sebagian pinjaman bank", ujarnya kemarin.
Minarto menjelaskan tujuan perseroan melakukan refinancing adalah untuk mengurangi beban keuangan perusahaan dan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah pada masa yang akan datang. Dia mengungkapkan saat ini perseroan memiliki total utang Rp2,05 triliun. Dari jumlah tersebut sebesar US$ 43 juta atau setara dengan Rp392,91 miliar, merupakan utang obligasi yang diterbitkan perseroan pada 2006 dan 2009.
Kedua obligasi tersebut lanjutnya akan jatuh tempo pada 2015. Menurutnya perseroan berencana mempercepat pelunasan obligasi itu mengingat suku bunga Indonesia saat ini lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga global.
"Untuk obligasi dolar, kami harus membayar interest rate sebesar 12%. Dengan refinancing kami berharap interest rate bisa menjadi sekitar 10-11%", tuturnya.
Minarto menuturkan, perseroan sedang berbicara dengan tiga bank hingga empat bank lokal untuk mencari dana tersebut. Namun dia masih enggan menjelaskan lebih terperinci mengenai identitas bank-bank tersebut.
Terkait dengan kinerja perseroan Direktur Pakuwon, Irene Tedja Murdaya memproyeksikan nilai pendapatan yang dibukukan perseroan selama tahun lalu yaitu Rpl,5 triliun sekitar 20% dibandingkan dengan pencapaian pada tahun sebelumnya.
Adapun laba bersih perseroan diperkirakan mencapai 25-27% dari pendapatan atau sekitar Rp375 miliar atau Rp405 miliar. Nilai prapenjualan katanya juga diperkirakan mencapai Rpl,5 triliun. "Kami optimistis target kinerja bisa tercapai", katanya.
Untuk tahun ini Irene mengungkapkan perseroan menargetkan nilai pendapatan yang bisa dibukukan mencapai Rpl,7 triliun tumbuh sekitar 20% dibandingkan dengan target pendapatan pada tahun lalu. Guna mencapai target tersebut perseroan akan menggenjot beberapa proyek, a.l. Tunjungan Plaza V, Kota Kasablanka dan kondominium Pakuwon City Surabaya.
Perseroan ujarnya akan mengalokasikan dana belanja modal (capital expenditure/capex) Rpl,3 triliun untuk kebutuhan pengembangan proyek proyek tersebut. Sumber pendanaan capex tuturnya akan diperoleh dari kas internal pinjaman bank dan pra penjualan.
Pelunasan utang
Analis PT Nusantara Capital Securities 1 Made Adi Saputra menilai rencana Pakuwon untuk melakukan refinancing bagi percepatan pelunasan utang obligasi dolar merupakan langkah yang baik dan realistis. Menurutnya bunga obligasi dolar sebesar 12% yang harus dibayarkan perseroan relatif tinggi.
Oleh karena itu keputusan perseroan untuk mengganti beban utang dalam bentuk rupiah akan menguntungkan perseroan pada masa mendatang. "Bunga 12% itu sudah cukup tinggi untuk ukuran obligasi dolar karena itu, aksi refinancing ini merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi beban bunga perseroan ke depan ", tuturnya.
